laba-laba salting


“ayo, lempar kesini cepet” kata robi
rafi yang sedari tadi mengumpulkan batu-batu berukuran kecil kemudian secepatnya ia melesat berlari kearah robi. dua bocah berusia 4 tahun itu memungut batu ditangan rafi dan melemparkannya kearah pagar. disana terdapat sarang laba-laba, dengan laba-laba berukuran cukup besar, sekepalan tangan orang dewasa.
“pergi kamu! laba-laba jahat!” teriak rafi, tangannya yang mungil menunjuk-nunjuk ke arah laba-laba.
aku memperhatikan mereka, kemudian menghampiri, memeluk berjongkok di depan mereka dan menggenggam tangan dua bocah imut itu.
“waaah, apa ini? batunya buat apa?” ujarku dengan muka so’ heboh
“itu bu, ada laba2 item, musuhnya spiderman. jahat” jawab robi
“perasaan warnanya merah….”bantah rafi
“ya, pokonya laba-laba jahat..” timpal robi
“eh.bunda punya cerita tentang laba-laba… ingin dengar ga?” ujarku
tanpa mendengar jawaban “ya” dari mereka. aku langsung menerobos bercerita. “Dulu, nabi kita muhammad saw. pernah ditolong waktu dikejar-kejar musuh,,, pada saat dikejar kaum kafir quraisy…. muhammad saw….”
“siapa muhammad ? ” rafi memotong ceritaku dengan pertanyaan
aku tertegun. pelan-pelan ku jawab “nabi muhammad saw. itu yang paling hebat. jadi teladan kita, apa yang nabi lakukan kita ikuti juga..” *dalam hati…semoga rafi mengerti dengan penjelasanku.
“nah, lanjutin lagi ya… waktu nabi dikejar musuh, kemudian dia lihat ada gua..kemudian masuk kedalamnya dan berdoa’… Allah mengabulkan doa’ nabi muhammad…ternyata ada laba-laba bikin sarang yang besaar sekali di depan pintu gua.. pas musuhya mau masuk ke dalam gua.. ga jadi karena di depan pintu kan ada sarang laba-laba jadi ga mungkin masuk” panjang lebar aku bercerita
dua anak itu termenung. “oh, gitu…” .

tak berselang sekian detik kemudian mereka berlari lagi ke tempat semula dengan tetap ‘memerangi’ sarang laba-laba. aku menghela napas. namanya anak-anak, mereka mungkin tidak paham dengan ceritaku, akunya terlalu berat kata-katanya, salah presepsi, atau mungkin terlalu sulit dicerna, atau terlalu cepat tadi ceritanya, atau…. “aha” kemudian aku ada ide lagi.
“rafi, sini deh…” kupanggil salah seorang diantaranya.
“menurut rafi, ngelemparin laba-laba bener atau salah?” tanyaku perlahan
“bener bun, soalnya itu kan laba-laba jahat, bisa gigit manusia!!” jawabnya tegas
“hmm… tapi kalau di lemparin gitu, laba-labany nangis nanti rumahnya dirusak…kalau rafi dilemparin batu kan rafi juga nangis.. laba-labany jugsea karang lagi sedih..” kataku
“hah? engga, rafi ga akan nangis..sok aja bunda lempar batu ke rafi sinii..huh!” jawabnya sambil agak marah gitu.
aku jadi serem kalau anak kecil udah marah gitu.
“ya sudah deh, gaapa-apa.. silahkan lanjut ya..” aku menjawab dengan nada pasrah.

2 hal tadi yang kulakukan adalah tips2 memahami jiwa anak yang kubaca dari buku. kemudian baru saja ku praktekan di sekolah. dari bacanya sih keliatannya gampang. tak kusangka sesulit ini konflik yang terjadi di lapangan. anak masih belum mau menurut.

banyak orang yang beranggapan bahwa bekerja di tk itu mudah. haha..dulu aku juga berfikir begitu sih.. hanya bermain bersama anak-anak. tapi kini aku punya tujuan lain. ya. aku ingin belajar parenting. cara mendidik anak dengan baik, apalagi usia 4-6 termasuk dalam kriteria golden age. usia dimana anak-anak membentuk karakter dan mental yang akan menunjangnya ketika dewasa nanti. usia dimana mereka meniru,merekam dan mencatat banyak hal, terutama dari orang disekeliling mereka. namun, banyak orang tua yang beranggapan untuk menitipkan anaknya di sekolah-sekolah favorit yang ‘fullday school’. padahal “rumah” justru menjadi tempat pendidikan yang lebih utama dibandingkan dengan sekolah. “Rumah” menyumbang pertumbuhan karakter anak sebesar 70% dan sekolah hanya 30%. tidak salah juga jika banyak orangtua yang memilih sekolah terbaik untuk anaknya agar mendukung proses sebesar 30%. namun anak sampai usia dewasapun tetap menjadi tanggung jawab kedua orang tua mereka.
e maap jadi curhat.

yap. bersambung ke cerita tadi. aku pasrah. kemudian di kelas. aku masih memperhatikan kedua anak itu dan mendekati mereka yang memang selalu senang ‘berulah’. hehe.
jika robi tak mau diam. aku sering duduk disebelahnya dan memeluknya kemudian bilang “robi, ibu tau sbenernya kamu anak baik,soleh dan pinter..” sambil tersenyum.

tidak ada yang sia-sa dengan apa yang kita tanam. itu kata pepatah. ya. jika yang kita tanam adalah kebaikan, maka akan berbuah kebaikan juga.
besoknya,
rafi menghampiriku sambil melihat dan mendekatiku dengn manja..
“bunda kok ngajarnya di kelompoknya sana siih.. kenapa gitu?”
“iya, hehe ..rafi yang baik ya belajarnya sama bunda yang baru..”
rafi masih menatapku.. ciee.. kangen kali ya..haha

beda cerita dengan robi..
pulang sekolah aku menghampirinya..dan membantu memakaikan sepatu..
saat itu bunda guru yang lain memanggilku..
“bunda alnis, dipanggil sama mamahnya robi..” teriak bunda rosi sambil senya-senyum
“eh, iya adaapa bunda?” tanyaku
“kata robi, bunda alnis itu baik, gapernah marah, seneng sama bunda alnis..hihihi” kata mama robi sambil ketawa

aku langsung salting.
wah. baru kali ini dipuji begitu sampai rasanya seneng banget. he.

anak kecil. kalo diceritain emang ga akan ada habisnya. selalu ada yang unik dari berbagai macam karakter yang dimilikinya. mereka itu jujur apa adanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s