Abu-abu


Para pembaca budiman, sebelumnya saya kasih tau, tulisan ini ga penting banget sumpah dah ! He.. Baca ga baca.. Yang penting dibaca hahaha :p

Hari ini hujan, langit malah sempat-sempatnya menjatuhkan butiran-butiran air yang diameter ukurannya lebih besar itu, membuat saya sempat terkurung dalam sebuah ruangan di kampus tercintah dan mengunci gerak saya untuk pulang secepatnya ke rumah. Ya okey, saya hanya bisa menunggu disini, mengobrol bersama teman daaaan itu membosankan (intinya mah pengen cepet pulang atuhlah!) . Baiklah setelah 60 menit diri ini hanya mampu berdiam tak berkutik, saya pun ingat sebuah peribahasa, ini nih peri bahasanyah : taim is many alias waktos teh artos (waktu adalah uang ) #eaaaaa…
Oh no, Gaswattt, ini tidak bisa dibiarkan, saya pikir, lebih baik menerobos badai dan menikmati secangkir teh setelah sampai dirumah, bukankah itu nikmatnya main india-indiaan alias huhujanan ? :p

Setelah mengalami gejolak batin dan perdebatan yang serius dalam jiwa, #tsaaah.. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang sajah, biarkan butiran-butiran air itu puas membasahi diri #tsaaaah.. Hahaha..

Diperjalanan, di bus, saya tertidur,
Ya begitulah akhir dari cerita ini,
He.. Ga ketang..

Saya turun dari bis,
Hujannya udah selesai…
Ga tau kenapa saya tiba-tiba sukaaaa banget suasana yang kaya gini..
Suasana setelah hujan..
Saya puisi-kan suasana setelah hujan ini yah😀

ABU-ABU

Roda-roda berputar menghempaskan percikan air,
Jalanan sepi,
Orang-orang berlalu lalang, kemudian menutup payung masing-masing.

Senja di hari ini sepi,
Tak lagi berwarna merah saga,
Tak seperti senja-senja sebelumnya,

Senja di hari ini begitu syahdu,
Memalingkan kalbu dari serangan pilu,
Di mataku kini, semua bewarna kelabu,
Warna abu-abu.

Langit yang abu-abu,
Tak mampu memberikan jawaban,
Pertanyaan atas semua keterasingan yang menghempaskan jiwa,
Langit yang abu-abu hanya mampu membisu.

Jalanan yang abu-abu,
Membuatku malu,
Kemana arahku, yang tak pernah lagi melaju,
Pasang surut kehidupan yang berliku,
hari demi hari berlalu,
Tapi tak satupun menjadi pilu,
atas menumpuknya dosa-dosaku.

Kembali roda-roda berputar menghempaskan percikan air,
Jalanan sepi,
Orang-orang berlalu lalang, kemudian menutup payung masing-masing.

Dan kini aku tahu,
Aku disini, kelabu,
Tak seperti dirimu, menjadi awan yang biru…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s