PSDMO – versi saya


Bismillahirrahmanirrahim

7 February 2010 , minggu . 23:38 , @ kamar kosan.

Hanya ingin saja. Berbicara sedikit mengenai PSDMO.

PSDMO itu. Singkatan dari Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Organisasi.

Apa sih fungsi PSDMO? Menurut analisis saya nih, departemen PSDMO merupakan salah satu departemen crusial yang ada di Badan Eksekutif Himaka. Karena , kerjaannya itu adalah menjaga stabilitas kepengurusan, membuat alur kaderisasi yang tentunya untuk memperbaiki generasi2 penerus himpunan,  dan harus lebih mengetahui apa2 saja tentang Himaka (semestinya).

Eh, ini apaan juga tiba2 ngomongin PSDMO? ,

Hem. Jadi begini kawan, besok the cenah saya mau wawancara untuk jadi pengurus himaka, dan saya ini sudah memutuskan. (kan tadinya bingung mau BEM fakultas atau BE himaka), nah jadilah hati saya ini sudah terpaut dengan BE himaka. Dan sekarang, saya sedang menggantungkan harapan saya pada pilihan pertama . yaitu DEPARTEMEN PSDMO !

Memang apa sih motivasi saya untuk jadi pengurus himpunan?
hem.. nyem.. nyem.. nyem..

Jangan bilang jawaban simple.. ingin mengubah himaka menjadi lebih baik..                                                   haha.. ga ada parameternya itu mah. Asa ga menggugah jawaban yang seperti itu.

Motivasi adalah. Sesuatu yang bisa menguatkan dikala masa2 suram dan suntuknya kita nanti saat menjalani kepengurusan. Motivasi setiap orang tentunya berbeda. Karena stabilitas emosi yang dimiliki setiap orang pun  berbeda . Maka beginilah motivasi saya :

Karena organisasi itu telah disebut lebih baik jika ia pada kepengurusan selanjutnya dia melahirkan generasi penerus2 yang lebih baik daripada sebelumnya.

Maka, kaderisasi bertujuan untuk melahirkan generasi tangguh, generasi yang menggantikan , dan tentunya generasi yang lebih baik. Alur kaderisasi dibuat, tak semata-mata” hanya untuk”. Akan tetapi alur  tersebut, bertanggung jawab dan punya andil besar akan perubahan sebuah organisasi.

Tegak-Robohnya suatu organisasi tergantung pada komponen manusianya. Komponen orang-orangnya lah yang justru menjadi penentu maju-mundur sebuah organisasi.

Janganlah dulu. Anda berharap banyak pada generasi2 selanjutnya , yang mungkin saja ia punya potensi yang lebih baik.  Bolehlah saja ia berjalan sendiri. Tanpa fasilitas, tanpa arahan dan bimbingan . maka anda akan rugi besar jika bersikap seperti itu!. Karena potensi2  generasi tersebut, jika anda2 sekalian tidak mengeksplornya secara optimal, bisa jadi ia akan terkubur dalam dan perlahan. Sayang sekali.

Dalam dunia kedokteran telah dinyatakan bahwa  : meskipun tiap manusia punya genetic yang membuatnya memiliki kecenderungan untuk menjadi sesuatu secara spesifik, namun jika lingkungan tempat ia berada tidak memadai untuk ekspresi gen itu, sifat yang dibawa takkan terekspresikan. Hal serupa terjadi pula dalam realita yang kita hadapi sehari-hari. Sebaik apapun potensi kepemimpinan seorang pemuda Indonesia misalnya, jika ia tak pernah terpapar lingkungan yang mendukung pengoptimalan potensinya, ia takkan pernah bertumbuh menjadi seorang pemimpin digdaya sampai kapanpun.(Almira Aliyannisa)

Saya ingin melahirkan bibit-bibit generasi yang super . bukan hanya untuk Himaka. Kaderisasi berlanjut untuk kader ke tahap selanjutnya, fakultas, universitas, bahkan Indonesia!

Untuk menumbuhkan si ksatria super , tak cukup satu kali , atau dua kali. Seperti kata orang :  Sesuatu yang abadi itu, Bukan hal yang mudah dan instant. Tapi ia berproses. Tak henti namun berlanjut, hingga mengakar sampai jiwa-mu. Maka itulah yang dimaksud dengan : pembinaan. Bagiku hal ini, lebih efektif dari cara macam apapun.

Setelah sejak lama berkecimpung di dunia pembinaan, menjadi mentor selama 2 tahun ( kelas 2 dan 3 SMA) , menjadi tim dakwah kesiswaan, dan departemen tarbiyah Majelis Dakwah  betapa saya tersadar bahwa tarbiyah / pembinaan merupakan pondasi atau dasar bagi perubahan tiap-tiap manusia                  ( termasuk saya juga, salah seorang  yang tersesat ke jalan yang lurus akibat jatuh cinta dengan pembinaan).  merasakan sukacita menjadi pementor membuat saya ingin lebih terjun kedalam dunia pengembangan sumber daya manusia, Karena menjadi pemerhati tiap-tiap orang kemudian menngaplikasikan metode “bench marking” ternyata hal yang mengasyikkan.

Potensi. Jelaslah bahwa setiap orang. Masing2. Pasti memiliki potensi. Anda juga pasti tahu itu. Bukankah?. Satu saja masalah kita. Apakah setiap orang tahu bahwa dia memiliki potensi ini atau itu kemudian berusaha mengembangkannya?

Ada kata2 dari kang rihan yang saya seneng banget kalo baca inih :  “setiap orang dimudahkan dalam apa-apa yang untuknya dia diciptakan” ternyata memang bakat itu given ya.. Dan orang2 yang sukses hampir tidak ada yang multidimensi. Mereka pasti punya core competence dan keunikannya masing2. Itulah “sesuatu yang untuknya ia diciptakan” atau bahasa kedokterannya “genetic yang membuatnya memiliki kecenderungan untuk menjadi sesuatu secara spesifik,”.
Berarti logika terbaliknya, orang2 yang mediocre ialah orang2 yang gagal mengetahui dan mengeksplor “sesuatu yang untuknya ia diciptakan”.
Hmm.. Makanya Ali bin Abi Thalib menempatkan ilmu mengenal diri (ma’rifatunnafs) sebagai kunci (ilmu yang tinggi) seperti yang beliau katakan “man arafa nafsaha, arafa Rabbuha”. Namun nampaknya proses tersebut pasti panjang dan melelahkan…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s