What’s the meaning of success


What’s the meaning of success?

If we have got a cumlaude and graduated from the college.

Is that called success?

If we have got some work with a high salary and prestigious company.

Is that called success?

If we have got married with someone prefect, beautiful or handsome, shalih or salihah. Everybody had admire to married him/her.

Is that called success?

If we are famous because of our achievement’s, we are some kind of socialist,  everybody know and respect for us.

Is that called success?

If we have a lot of money and we can buy everything in this world. Everything.

Is that called success?

We are a Muslim.

We have to know.

What’s the meaning of success for Muslim.

You can open surah

Al-mu’minuun 1-8

Mukmin yang khusuk dalam sholatnya.

In another ayah from surah al baqarah we had found

Sesungguhnya shalat itu berat bagi orang2 yg khusyuk.

That’s called success.

-inspired by listening nouman Ali khan

If there’s any fault from the sentences , please correct.

Hatur tengkyu

Janganlah kalian khawatir~ tafsir surat thahaa


surat thahaa. ada yang tau artinya thahaa? ayat pertama pada surat thahaa?

tidak ada yang tahu kecuali Allah saja, walaupun al-qur’an berasal dari bahasa arab, namun tetap saja manusia pengetahuannya terbatas. Allah memberi isyarat tentang ‘ketidaktahuan’nya manusia pada beberapa ayat dalam al-qur’an. manusia masih jauh dari ilmu. Allah yang Maha berilmu dan Maha Mengetahui semuanya.

manusia terlahir dalam keadaan yang tidak mengetahui apapun. namun kemudian ia belajar untuk bergerak dari ketidaktahuan menjadi tahu.

dijelaskan dalam quran surat thahaa ayat 10 kisah nabi musa as.

nabiyullah musa as. setelah mengabdi selama 10 tahun ditempat mertuanya. kemudian memutuskan untuk berpindah tempat. saat perjalanan nabi musa as. melihat sumber cahaya seperti api , lalu berkata pada keluarganya “tunggulah disini,mudah-mudahan aku dapata mengambil sebagian untuk kalian atau aku akan mendapat petunjuk”. kemudian nabi musa as. memperhatikan, mendekati dan menjadi lebih dekat lagi dengan sumber cahaya atau api tersebut. “ataha” —> perlahan mendekati.

apakah sumber cahaya itu ?

Alqur’an. 

kita sudah mengetahui bahawa Al-quran itu merupakan petunjuk bag orang beriman. namun seberapa dekatkan kita dengan al-qur’an? apaka kita membacanya setiap hari? apakah kita punya cita-cita menghafalkannya 30 juz dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari?

tafsir QS al anfal :23 “sekiranya Allah mengetahui dalam diri mereka terdapat kebaikan, Allah akan memberi mereka jiwa yang lembut (sensitif)” 

jiwa (penuhi jiwa kita dengan input yang baik) ——-> keinginan —-> melakukan

bagaimana proses nabi musa as. mendekati sumber cahaya dengan perlahan. berasal dari keinginan, keingintahuan dan kemudian perlahan mendatanginya / dilakukan. pada tafsir ayat ini , artinya adalah kita harus berusaha mengakrabkan diri dengan al-quran dan mengambil sebagian hikmah untuk keluarga kita (keluarga yang paling utama). dan hal itu dilakukan dengan perlahan tapi semakin bertingkat. misalnya tadinya ngaji se-juz perhari, naikin jadi 2 juz perhari, terus ditambah hafalannya setiap hari. al-qur’an merupakan sumber ilmu yang di ibaratkan sebagai lautan yang tak pernah bertepi.

interaksi dengan al-qur’an itu bagian dari secercah kecil cahayanya saja  kita akan mendapatkan pertolongan dan pentunjuk dari Allah untuk berbagi permasalahan .ketika nabi musa sudah dekat dengan sumber cahaya itu, kemudian Allah memangilnya “wahai musa!”

kemudian contoh dari kedekatan nabi musa dengan Allah juga terdapat dalam surat thaha ayat 18 : nabi musa selalu ‘mencurhatkan’ semua permasalahannya dengan Allah tidak terkecuali urusan tentang tongkatnya yang menjadi mukjizat nabi musa as.

sebenarnya, ketika kita sedang bersama dengan Al-qur’an, Allah sedang mengobrol dengan kita, sehingga Al-qur’an itu menjadi sesuatu yang hidup dan menghidupkan jiwa kita. dekat dengan al-qur’an juga merupakan upaya untuk membersikan jiwa  dan diri dari dosa juga penyakit hati. ketika seseorang berlama-lama dengan qiyamul lailnya (sholat malam) sejam-duajam-tigajam.  apa yang ia baca ? bukankan al-qur’an, kualitas shalat nya semakin baik karena semakin dekat dengan al-qur’an , semakin dekat pula-lah dengan Allah.

semakin dekat dengan Allah, tentu saja ujian yang dialami pun aka semakin berat bahkan seperti kisahnya nabi musa as. gambaran permasalahan hidup yang berat adalah seaka-akan mentok. sudah tidak ada jalan lain. bagaikan di depannya ada laut dan dibelakangnya ada pasukan fir’aun. tapi ?? apa kata Allah. mudah bagi Allah untuk menjadikan tongkat nabi musa as. membelah lautan. janganlah khawatir selalu ada jalan jika kita bersama dengan Allah🙂

-jalasah ruhiyah

laba-laba salting


“ayo, lempar kesini cepet” kata robi
rafi yang sedari tadi mengumpulkan batu-batu berukuran kecil kemudian secepatnya ia melesat berlari kearah robi. dua bocah berusia 4 tahun itu memungut batu ditangan rafi dan melemparkannya kearah pagar. disana terdapat sarang laba-laba, dengan laba-laba berukuran cukup besar, sekepalan tangan orang dewasa.
“pergi kamu! laba-laba jahat!” teriak rafi, tangannya yang mungil menunjuk-nunjuk ke arah laba-laba.
aku memperhatikan mereka, kemudian menghampiri, memeluk berjongkok di depan mereka dan menggenggam tangan dua bocah imut itu.
“waaah, apa ini? batunya buat apa?” ujarku dengan muka so’ heboh
“itu bu, ada laba2 item, musuhnya spiderman. jahat” jawab robi
“perasaan warnanya merah….”bantah rafi
“ya, pokonya laba-laba jahat..” timpal robi
“eh.bunda punya cerita tentang laba-laba… ingin dengar ga?” ujarku
tanpa mendengar jawaban “ya” dari mereka. aku langsung menerobos bercerita. “Dulu, nabi kita muhammad saw. pernah ditolong waktu dikejar-kejar musuh,,, pada saat dikejar kaum kafir quraisy…. muhammad saw….”
“siapa muhammad ? ” rafi memotong ceritaku dengan pertanyaan
aku tertegun. pelan-pelan ku jawab “nabi muhammad saw. itu yang paling hebat. jadi teladan kita, apa yang nabi lakukan kita ikuti juga..” *dalam hati…semoga rafi mengerti dengan penjelasanku.
“nah, lanjutin lagi ya… waktu nabi dikejar musuh, kemudian dia lihat ada gua..kemudian masuk kedalamnya dan berdoa’… Allah mengabulkan doa’ nabi muhammad…ternyata ada laba-laba bikin sarang yang besaar sekali di depan pintu gua.. pas musuhya mau masuk ke dalam gua.. ga jadi karena di depan pintu kan ada sarang laba-laba jadi ga mungkin masuk” panjang lebar aku bercerita
dua anak itu termenung. “oh, gitu…” .

tak berselang sekian detik kemudian mereka berlari lagi ke tempat semula dengan tetap ‘memerangi’ sarang laba-laba. aku menghela napas. namanya anak-anak, mereka mungkin tidak paham dengan ceritaku, akunya terlalu berat kata-katanya, salah presepsi, atau mungkin terlalu sulit dicerna, atau terlalu cepat tadi ceritanya, atau…. “aha” kemudian aku ada ide lagi.
“rafi, sini deh…” kupanggil salah seorang diantaranya.
“menurut rafi, ngelemparin laba-laba bener atau salah?” tanyaku perlahan
“bener bun, soalnya itu kan laba-laba jahat, bisa gigit manusia!!” jawabnya tegas
“hmm… tapi kalau di lemparin gitu, laba-labany nangis nanti rumahnya dirusak…kalau rafi dilemparin batu kan rafi juga nangis.. laba-labany jugsea karang lagi sedih..” kataku
“hah? engga, rafi ga akan nangis..sok aja bunda lempar batu ke rafi sinii..huh!” jawabnya sambil agak marah gitu.
aku jadi serem kalau anak kecil udah marah gitu.
“ya sudah deh, gaapa-apa.. silahkan lanjut ya..” aku menjawab dengan nada pasrah.

2 hal tadi yang kulakukan adalah tips2 memahami jiwa anak yang kubaca dari buku. kemudian baru saja ku praktekan di sekolah. dari bacanya sih keliatannya gampang. tak kusangka sesulit ini konflik yang terjadi di lapangan. anak masih belum mau menurut.

banyak orang yang beranggapan bahwa bekerja di tk itu mudah. haha..dulu aku juga berfikir begitu sih.. hanya bermain bersama anak-anak. tapi kini aku punya tujuan lain. ya. aku ingin belajar parenting. cara mendidik anak dengan baik, apalagi usia 4-6 termasuk dalam kriteria golden age. usia dimana anak-anak membentuk karakter dan mental yang akan menunjangnya ketika dewasa nanti. usia dimana mereka meniru,merekam dan mencatat banyak hal, terutama dari orang disekeliling mereka. namun, banyak orang tua yang beranggapan untuk menitipkan anaknya di sekolah-sekolah favorit yang ‘fullday school’. padahal “rumah” justru menjadi tempat pendidikan yang lebih utama dibandingkan dengan sekolah. “Rumah” menyumbang pertumbuhan karakter anak sebesar 70% dan sekolah hanya 30%. tidak salah juga jika banyak orangtua yang memilih sekolah terbaik untuk anaknya agar mendukung proses sebesar 30%. namun anak sampai usia dewasapun tetap menjadi tanggung jawab kedua orang tua mereka.
e maap jadi curhat.

yap. bersambung ke cerita tadi. aku pasrah. kemudian di kelas. aku masih memperhatikan kedua anak itu dan mendekati mereka yang memang selalu senang ‘berulah’. hehe.
jika robi tak mau diam. aku sering duduk disebelahnya dan memeluknya kemudian bilang “robi, ibu tau sbenernya kamu anak baik,soleh dan pinter..” sambil tersenyum.

tidak ada yang sia-sa dengan apa yang kita tanam. itu kata pepatah. ya. jika yang kita tanam adalah kebaikan, maka akan berbuah kebaikan juga.
besoknya,
rafi menghampiriku sambil melihat dan mendekatiku dengn manja..
“bunda kok ngajarnya di kelompoknya sana siih.. kenapa gitu?”
“iya, hehe ..rafi yang baik ya belajarnya sama bunda yang baru..”
rafi masih menatapku.. ciee.. kangen kali ya..haha

beda cerita dengan robi..
pulang sekolah aku menghampirinya..dan membantu memakaikan sepatu..
saat itu bunda guru yang lain memanggilku..
“bunda alnis, dipanggil sama mamahnya robi..” teriak bunda rosi sambil senya-senyum
“eh, iya adaapa bunda?” tanyaku
“kata robi, bunda alnis itu baik, gapernah marah, seneng sama bunda alnis..hihihi” kata mama robi sambil ketawa

aku langsung salting.
wah. baru kali ini dipuji begitu sampai rasanya seneng banget. he.

anak kecil. kalo diceritain emang ga akan ada habisnya. selalu ada yang unik dari berbagai macam karakter yang dimilikinya. mereka itu jujur apa adanya.

sabar dan syukur


Allah berikan kita ujian, sebagai pembuktian apakah kita orang beriman
diantaranya terdapat sabar dan syukur menjadi kekuatan manusia
sabar dan syukur tak dapat dipisahkan
setara bagai pundak kanan dan kiri sebagai tempat bersandar
mereka menjadi sama dalam kondisi berbeda
atau berbeda dalam kondisi yang sama

Umar bin Khatab ra pernah berkata : “andaikata sabar dan syukur itu adalah dua kuda tungangan, maka aku tak peduli mana saja diantara keduanya yang aku tungangi.”

ketika ujian musibah datang, sabar menjadi tunggangan
ketika ujian kelapangan datang, syukur menjadi pegangan
namun tahukah dirimu sahabat?
malaikat memuji manusia yang bersabar
karena mereka makhluk yang penuh rasa syukur terhadap Rabbnya
melihat manusia yang bersabar , malaikat takjub
“Wahai fulan, betapa sabarnya engkau ! ”

ya, manusia memang paling mudah bersabar dengan kata ajaibnya..
“untunglah…”
“untunglah cuma dicuri hape, yang penting diri sendiri masih selamat..”
“untunglah cuma ga makan siang.. besok2 buat ngirit masih bisa puasa..”

namun ketika manusia bergelimang kenikmatan?
kebanyakan manusia lupa dalam mengingat Allah
memang seringkali begitu ya,
kita lebih sering mendekat padaNya, disaat susah
disaat senang?
masihkah kita jauh lebih sering ingat pada Allah?
atau hanya sesekali?

sabar atau syukur kah yang pahalanya lebih besar?
ketika nabi ayub as. diuji dengan kesabaranya
dan nabi sulaiman as. diuji dengan kesyukuranya
terdapat kisah dalam surat shad
Allah memuji keduanya dengan “sebaik-baik hamba adalah yang taat kepada tuhannya”

sabar dan syukur

mereka sama dan serupa

catatan #MJN

Jangka panjang


namanya andi, terkenal dengan sebutan ‘si pembawa botol’ di komplek ini. kegiatan yang selalu ia lakukan selama bertahun-tahun ini adalah tak bisa lepas dari membawa botol minuman beralkohol kemudian berkeliling komplek, dan tentu saja, sering sekali melewati mesjid. orang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala ketika berpapasan dengannya.

dalam prolog cerita ini. barangkali yang kita pikirkan pada umumnya adalah “itu orang udah mentok dosanya,ga ketolong, suul khatimah ini mah”

mudah putus asa. ya. barangkali begitu mental muslim saat ini.

namun, tak berarti yang harus kita lakukan pada saat itu adalah menyeretnya masuk ke dalam mesjid, menyiramnya dengan air wudhu dan menyuruhnya solat taubat. *bisa2 tu botol kena kepala kita*

ingatlah bahwa, seburuk apapun akhlak seseorang. jangan pernah ber putus asa terhadapnya. dia pasti bisa berubah. yakini hal tersebut. Allah saja selalu memberikan kesempatan dan maaf, mengapa kita yang harus ber-putus asa terlebih dahulu?

suatu saat ketika andi melewati mesjid lagi dengan setengah sadar, seorang ustad menghampirinya dan bertanya namanya, kemudian bergumam “ku doa’kan semoga engkau menjadi ahli mesjid ini, dan meneruskan dakwah kami”

nah, inilah dakwah jangka panjang.
cara yang paling efektif adalah dengan mendoa’kan.

teringat doa’ nabi ibrahim as yang meminta seorang rasul dari keturunannya untuk berdakwah di kalangannya sendiri. doa’ ibrahim as terkabul. ratusan tahun kemudian, Muhammad saw lahir, tapi tak hanya berdakwah di kalangannya sendiri namun melewati jazirah arab dan menguasai 3 benua.

parameter kesuksesan sebuah doa’ bukan dilihat dari jangka waktu terkabulnya doa’ tersebut. namun, Allah pasti mengabulkan doa’ kita dan memberikan yang terbaik.

begitu pula doa’ sang ustad. terkabul. kini andi masih membawa botol minuman dan berkeliling komplek, ya. botol galon minuman air mineral. karena iasekarang bekerja sebagai ‘pengantar air minum’ dan tentu saja ia sudah bertaubat dan menjadi ahli mesjid.

nah, jika ada di sekitar kita, orang2 yang berakhlak buruk yang mudah sekali kita berputus asa pada saat melihatnya. mari kita doa’kan !

Bisa dilatih


dengki bisa dilatih dengan cara berburuk sangka, mencari-cari aib, dan bergunjing. yang ini ,tentu kita tahu bahwa semuanya bisa memusnahkan amal kebaikan. maka hati-hati. terhadap sesama muslim, sering kali kita tak sengaja melakukan hal-hal seperti itu untuk hal sekecil apapun. bahkan yang ga penting buat kita. hati2 jg yg suka kepo, bisa berujung yg ga baik…

dengki yang menyengsarakan hati bisa dilatih dengan cara membanding-bandingkan dan menganggap segalanya harus dimenangkan.

tamak bisa dilatih dengan menganggap semua nikmat adalah hak . bukan karunia.

kesombongan bisa dilatih dengan mencintai sambutan, tepuk tangan dan pujian.

semua hal yang bisa memperbesar keburukan ini gampang banget dilakukan, dengan cara menganggapnya kecil. bukan dosa besar.

catatan ust salim a fillah

Kisah Inpiratif Seorang “Professional House Wife”


Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kalian search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Bukan, dia bukan seorang pejuang emansipasi wanita yang mengejar kesetaraan gender lalala itu. Bukan.

Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Dalam sesi itu, beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like I’m watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.
Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut. Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran.

Akhirnya beliaupun menikah. Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja. Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah. Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren?

Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga. Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitupun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan? Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?

Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget. Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.
Ara, anak ke-2. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.

Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Keren!
Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20? :0 Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?” hehe.

Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:

1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan

2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktek nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.

3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.

4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.

5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!

6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai

7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.

8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara home schooling di mana Ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.

9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe. Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta

10. Punya kurikulum yang keren, di mana fondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.

11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya.

Daaaan masih banyak lagi. Teman-teman yang tertarik bisa kepo twitter ibu @septipw atau gabung dan ikut kuliah online tentang keiburumahtanggaan di ibuprofesional.com.

Hhhhmmm. Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa. Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia: housewife. So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please, housewife is the most presticious career for a woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.

Setelah mengikuti sesi tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa seminar kepemudaan tidak melulu bahas tentang organisasi, isu-isu negara, dan lain-lain yang biasa dibahas. Pemuda juga perlu belajar ilmu parenting untuk bekal dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Bukankah dari keluarga karakter anak itu terbentuk?

Wallahualambisshawab. Semoga ada yang bisa diambil pelajaran. (http://dakwahmedia.com/}